Oleh: Irawan Djoko Nugroho

Pakaian wanita di era Mataram Kuna hingga Majapahit ditengarai banyak orang dari seperti pakaian basahan yang dikenakan pengantin wanita Jawa saat ini. Atau telanjang dada seperti gambar wanita Bali yang sering muncul di internet, (Lihat, http://shstempoedoloe.blogspot.com/2013/09/bali-tempo-dulu-pakaian-wanita-masih.html). Anggapan ini semakin menguat setelah muncul buku Busana Jawa Kuna dengan basic penelitian relief candi Borobudur, (Lihat Inda Citraninda Noerhadi, Busana Jawa Kuna, Jakarta, Komunitas Bambu, 2013).

Karena itu pakaian yang dikenakan oleh Hijaber menjadi pakaian yang kemudian dianggap ‘tidak nasionalis’. Pemakainya ataupun yang menyarankan memakainya juga dianggap memaksa seseorang untuk berkebudayaan asing dan bukan berkebudayaan yang berakar dari diri sendiri. Benarkah demikian?

Peci dan Jilbab di Relief Candi di Jawa

Pakaian simbol Islam yang masih melekat hingga sekarang adalah peci dan jilbab. Pemakai pakaian ini umumnya dianggap sebagai orang Islam. Peci awalnya dianggap sebagai topi khas para buruh bangsa Melayu. Namun demikian, kini peci itu dipopulerkan oleh Presiden RI Pertama Soekarno menjadi salah satu kelengkapan pakaian kenegaraan, (Lihat Cindy Adams, Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat Indonesia). Sedangkan jilbab merupakan pakaian yang wajib digunakan oleh kaum wanita Islam, (QS.An Nuur: 31).

Anggapan bahwa peci dan jilbab sebagai pakaian simbol Islam ternyata tidak sepenuhnya tepat. Di dalam relief Pendopo Panataran, kedua pakaian simbol Islam itu digunakan para putri bangsawan dan bukan oleh kaum prianya. Lihat, Mugi Agusmiyati, Variasi Bentuk Pakaian Wanita Abad X-XIV M Berdasar Penggambaran Pada Relief Candi di Jawa, Skripsi Fakultas Sastra Universitas Gadjah Mada, 1996.

Peci dikenakan oleh petapa wanita atau wanita bangsawan.

1. http://imageshack.com/a/img690/2006/lyrh.jpg
2. http://imageshack.com/a/img513/5280/dgru.jpg

Sedangkan jilbab dikenakan oleh Dewayani. Dewayani adalah pernaisuri raja Jayati. Setelah putrinya yaitu Suwistri menikah dengan Sang Setyawan menjadi pendeta, kedua orang tua itu kemudian ikut menjadi pendeta. Saat menjadi pendeta itu, Dewayani mengenakan hijaber. Menurut Mugi Agusmiyati, pakaian yang dikenakan Dewayani berupa kain kebaya dan kerudung. Namun melihat pakaian yang dikenakan Dewayani pada gambar relief Pendopo Panataran, pakaian itu kiranya lebih tepat disebut hijaber. Hal ini karena pakaian yang dikenakannya berkesan lebar tidak membentuk tubuh dan sangat panjang melebihi umumnya kebaya serta tanpa hiasan yang menonjol.

Karena pakaian hijaber bukan pakaian wanita India (Sari), maka pakaian yang dikenakan Dewayani merupakan pakaian asli Jawa. Mengingat lengan pakaian yang dikenakan Dewayani dilipat pada pergelangan tangannya. Melipat lengan baju kini menjadi salah satu tren mode dunia khususnya pakaian laki-laki. Selain itu kisah Dewayani juga bukan kisah Islam. Hal ini karena suami putri Dewayani yaitu Sang Setyawan dikisahkan menjadi dewa yaitu Sang Hyang Wenang. Namun demikian fungsi hijaber Arab dan Jawa adalah sama yaitu untuk menutupi perhiasan wanita yang terhormat.

Bagan:

1. http://imageshack.com/a/img593/2512/x6ts.jpg

Peci Jawa untuk Dunia
Keberadaan peci yang dipakai para buruh bangsa Melayu, kiranya tidak dapat dilepaskan dari Putri Majapahit yang dinikahi oleh Sultan Malaka pertama. Mengingat peci di Majapahit awalnya dikenakan oleh putri bangsawan atau pertapa di Majapahit. Bangsa Melayu awalnya juga tidak memiliki tradisi mengenakan peci. Karena tertarik dengan mode yang dibawa Putri Majapahit itu, lambat laun masyarakat bangsa Melayu kemudian menggunakannya.

Karena tradisi terus berubah, maka lambat laun peci yang digunakan perempuan juga dikenakan oleh laki-laki bangsa Melayu. Awalnya kemungkinan besar karena tren semata. Namun lambat laun pula yang tersisa dikenakan oleh para buruh bangsa Melayu. Peci menjadi simbol sekalipun mereka pekerja kasar namun mereka adalah bangsawan karena mengunakan salah satu simbol bangsawan.

Karena itu pendapat bahwa peci dibawa Laksamana Cheng Ho ke Indonesia kiranya tidak tepat. Apalagi mengaitkan kata peci dari kata pe (artinya delapan) dan chi (artinya energy). Atau tidak tepat pula bila dikatakan bila peci merupakan hasil modifikasi blangkon Jawa dengan surban Arab (Lihat, yafi20. blogspot.com).

Menurut Rozan Yunos dalam “The Origin of The Songkok ot Kopiah” dalam The Brunai Times, 23 September 2007, songkok diperkenalkan oleh pedagang Arab. Pendapat ini kiranya juga tidak tepat. Hal ini karena tradisi mengenakan songkok tidak dimiliki oleh para pedagang Arab.

Peci Jawa yang awalnya digunakan wanita bangsawan, kemungkinan menjadi tren dunia semenjak Jawa mampu menghancurkan Khubilai Khan beserta pasukannya. Pada abad 13, Mongol negara super power dunia takluk kepada Jawa. Karena itu peci yang dikenakan para bangsawan Jawa menjadi salah satu tren, karena Jawa tampil menjadi super power baru. Tren yang awalnya menunjukkan pemakainya mampu untuk meraih kemenangan terhadap Mongol. Karena itu peci kemudian menjadi salah satu tren yang kemudian digunakan dunia, salah satunya Turki dan Mesir dengan tentu ada tambahan variasi. Hal itu karena Mesir dan Turki pada abad ke 13-14 bukan negara super power dan tengah berjuang melawan dominasi Mongol.

Kesimpulan[/align]

Dengan adanya gambar relief di Pendopo Panataran yang menunjukkan wanita menggunakan peci dan hijaber menunjukkan bila peci dan hijaber adalah asli Jawa. Bukan dari tradisi asing. Karena itu pemakai hijaber bukan berkebudayaan asing namun memakai tradisi yang berakar dari diri sendiri.*