IBU KOTA MODERN TROWULAN

Negeri Maritim Nuswantara

Ibu Kota Modern dengan tata kota dan tata kelola air yang mengagumkan yang telah dibangun masa itu , bahkan dari beberapa segi lebih maju dibanding DKI benarkah ?! Mari kita cermati tulisan dibawah berikut ;

Pembaca Sebangsa dan Setanah Air Putra Putri Ibu Pertiwi

Nusantara dimasa Majapahit waktu itu tentu sudah amat makmur ,hingga mampu membangun armada laut yang amat disegani, disepanjang jalur perdagangannya .

Sisi lain kemakmuran Majapahit ,kemampuan menguasai berbagai macam teknologi, diantaranya tata kota modern ,yang ditandai dengan tersedianya sumber air bersih dan saluran air kotor ,di Ibu Kota yaitu TROWULAN .

Sistim yang dibangun bahkan belum ada dikota kota Indonesia termasuk di DKI. Suatu fakta bahwa kota yang dibangun Belanda atau Indonesia berabad kemudian ternyata kalah maju, dibuat sumur penyedia air bersih untuk cuci dan minum dan saluran pembuangan air hujan dan kotor, yang ditampung di waduk sekitar pemukiman .Trowulan terletak didataran rendah dan merupakan daerah cekungan ,tetapi berkat adanya sistim parit dan embung buatan terhindar dari banjir .

Sebuah copy paste ,mari kita cermati bersama .

“TERSEBUTLAH keajaiban kota, tembok batu merah, tebal tinggi, mengitari pura. Pintu Barat bernama Pura Waktra, menghadap lapangan luas, bersabuk parit.” Pujangga besar Mpu Prapanca dalam Nagarakertagama Pupuh VIII menggambarkan Majapahit (1293—1521) sebagai kerajaan yang tidak saja indah, tetapi juga amat memperhatikan lingkungan: “bersabuk parit”.

Majapahit memang dibangun dengan tata kota dan tata kelola air yang mengagumkan. Jaringan kanal di Majapahit selain saling berkait dengan waduk, juga berkait dengan sungai, curah hujan, kolam, dan drainase di bawah permukaan tanah. Inilah sistem pengairan terbaik di zamannya. Di musim hujan tak banjir, di musim kemarau waduk-waduk untuk pertanian dan sumur-sumur warga tak kering.

Kita tahu Majapahit, terutama di era Hayam Wuruk dengan ahli perang dan politik Gajah Mada, pertanian dan perdagangan amat bertumbuh. Majapahit menjadi metropolitan yang menawan. Dalam Nagarakertagama ditulis: “Itulah sebabnya berduyun-duyun tamu asing datang berkunjung dari Jumbudwipa (India), Kamboja, China, Yamana, Campa, dan Goda, serta Saim. Mereka mengarungi lautan bersama para pedagang, resi, dan pendeta, semua merasa puas, menatap dengan senang.”

Banjir dan kekeringan bergantian terjadi di sejumlah wilayah Indonesia. Sementara itu, pada masa Majapahit abad XIII sampai XV, air bukan lagi menjadi masalah. Manajemen dan teknologi pengairan dipikirkan secara matang untuk kepentingan Kerajaan Majapahit dan rakyatnya.

Dari masa Majapahit banyak instalasi pengairan yang tersisa. Sebagian masih digunakan masyarakat sebagai jaringan irigasi yang tidak pernah kering, seperti terowongan air bawah tanah di Dukuh Surowono, Desa Canggu, Kecamatan Pare, Kabupaten Kediri.

Di Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto, kendati instalasi pengairan yang ditemukan lebih lengkap dan beragam, sebagian sudah terlupakan serta berubah wujud dan fungsi. Di Trowulan, teknologi pengairan Majapahit yang tersisa terdiri atas jaringan kanal, kolam penampung air, waduk, bak kontrol, dan saluran air bawah tanah.

Foto udara Badan Koordinasi Survei dan Pemetaan Nasional mulai tahun 1973 sampai tahun 1980-an menunjukkan keberadaan jaringan kanal di Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto. Jalur kanal yang lurus ini memanjang 4,5-5,5 kilometer dan bersilangan membentuk kisi-kisi. Lebarnya tidak kurang dari 20 meter, bahkan ketika dipetakan terakhir 40-80 meter dan kedalamannya 6-9 m .
Jauh lebih lebar dan dalam dibanding BKT dan BKB yang dibangun berabad kemudian pada jaman kolonial Belanda .

Sisa jalur kanal saat ini masih bisa dikenali kendati umumnya sudah menjadi persawahan. Bentuknya melebar dan cekung. Sawah yang memanfaatkan sisa kanal ini tidak pernah kering. Di tepian kanal umumnya terdapat selokan dengan susunan bata dari masa Majapahit.

Selain menjadi sawah, sebagian kanal sudah menjadi permukiman, seperti yang terlihat di barat laut Kolam Segaran. Di sekitar makam Troloyo, kanal dibatasi dengan tembok dan dijadikan lapangan parkir. Di perbatasan Mojokerto-Jombang, sebagian kanal malah sudah rata dengan permukaan tanah dan siap diaspal menjadi Jalan Lingkar Mojoagung, keterlaluan bukan.
Fungsinya diperkirakan sebagai pengendali banjir atau drainase kota, penyedia air, irigasi, dan transportasi.

Selain kanal, di sekitar Trowulan bisa dilihat sisa instalasi pengairan yang mendukung kehidupan kerajaan dan masyarakat. Kolam Segaran seluas 6,5 hektar di Kecamatan Trowulan bisa dilihat sebagai penampung air. Adapun waduk-waduk, seperti Balong Bunder dan Balong Dowo yang masih tersisa, diduga berfungsi sebagai penangkap air dari berbagai sumber di gunung-gunung di selatan Trowulan.

Instalasi pengatur air lainnya, Candi Tikus, diyakini sebagai pengukur debit air. Ketika air berlebih, saluran-saluran air bawah tanah menyalurkannya ke sungai-sungai yang ada di sekitar Trowulan. Pusat Penelitian Arkeologi Nasional pada tahun 1989-1990 juga menemukan bangunan dari susunan batu bata yang tampak seperti bak kontrol di sekitar Dukuh Blendren, Desa Watesumpak, Kecamatan Trowulan.

Saluran air bawah tanah dan sumur, baik berbentuk segi empat, bulat, maupun tipe jobong, masih banyak ditemukan di Trowulan kendati mulai rusak atau hilang. Selain di Desa Watesumpak dan di Desa Bejijong, saluran air bawah tanah juga masih tampak di Desa Nglinguk. Di Nglinguk, saluran air bawah tanah seperti selokan kecil yang disusun dari bata. Adapun bagian atas (penutup) saluran bawah tanah sudah hilang sehingga sekilas tampak seperti selokan kuno.

”Peninggalan ini menunjukkan apa yang dibuat Kerajaan Majapahit untuk rakyatnya. Di Jawa Tengah, banyak peninggalan bangunan suci, tetapi belum ditemukan peninggalan yang khusus ditujukan untuk pertanian dan kesejahteraan rakyat,” tutur topograf Bambang Siswoyo, pensiunan staf Balai Studi dan Konservasi Borobudur.
Melihat posisi jaringan kanal yang melingkupi daerah yang diduga istana Majapahit, seperti di Sentonorejo, pengajar Sejarah Universitas Negeri Surabaya, Hanan Pamungkas, melihatnya secara kosmologis. Menurut Hanan, dalam konsep Jambudwipa, kawasan istana dianggap mahameru, atau pusat jagat raya yang dikelilingi benua dan samudra.
Di luar masalah kosmologi, manajemen air sangat relevan dengan masa sekarang. Kondisi iklim Nusantara dengan dua musim, hujan dan kemarau, menimbulkan risiko banjir dan kekeringan bila air tidak dikelola. Masalahnya, ketika Trowulan mulai ditinggalkan sebagai pusat kerajaan akibat konflik politik pada akhir Majapahit, instalasi air ini tidak lagi terawat.

Selepas kemerdekaan, berbagai konflik politik semakin menjauhkan informasi manajemen air yang sangat maju ini. Mojokerto pun mulai mengalami banjir seperti yang terakhir terjadi pada awal Januari 2010. Tidak hanya kawasan yang pernah menjadi bagian dari pusat Majapahit, Pemerintah Indonesia secara keseluruhan semestinya bisa mempelajari teknologi pengairan yang sangat maju dan memerhatikan rakyat ini. (Kompas, Sabtu, 15 Mei 2010)a
Begitulah para pejabat negara malahan banyak belajar dari negara lain yang beriklim empat musim yang iklim dan topologinya amat berbeda, sehingga kalau kurang berhasil atau gagal ya lumrah .

Negara Maritim Nusantara dari cuplikan tulisan diatas, kemajuan yang dicapai tidak hanya dari segi pertanian, perdagangan samodra dan armada laut yang amat tangguh saja yang selama ini lebih dikenal masyarakat luas, ternyata Nusantara yang pertama kali mempunyai Angkatan Laut yang setara dengan negara Adi Daya saat ini.
Banyak sisi yang harus diungkap , agar dapat diketahui oleh masyarakat luas dengan harapan mendapatkan informasi yang lengkap dan benar.
Dengan demikian msyarakat paham bahwa Negeri Maritim Nuswantara mempunyai peradaban yang bahkan lebih maju dalam beberapa bidang dibanding dengan negara dibelahan benua lain seperti Inggris, Perancis, Mesir,Turki, Italia, India dan China.
Pada penulisan yang berikut, bertahap akan disajikan .

Negeri Maritim Nuswantara dalam Wadah NKRI
Jaya Sepanjang Jaman

Saalm , Jkt Desmb 013