Agenda Diskusi         : FGD 5 DPS TANNAS

Tema                            : Diskusi Komisi

Hari/tanggal                : Sabtu, 17 Februari 2018

Pukul                           : 09.00 – WIB

Tempat                         : Senayan Room, Residence 2 Lt. 2, The Sultan Hotel Complex,

Jakarta

Pemimpin Diskusi     : Pontjo Sutowo & Iman Sunario.

Pembicara                   : Laksda TNI Yani Antariksa

Prof. Dr. La Ode Kamaluddin

Dzaky Siradj

MC                                : Dr. Herawati, M.Si

Notulensi                    : Ayuningtias Laia

Peserta                        :  25 orang

Notulen FGD 5         :

  1. Pak Pontjo

FGD sudah berada ditengah perjalanan dan diharapkan bisa selesai Desember 2018. Kita harus meriview apakah pandangan kita kemarin relevan dengan yang saat ini, agar diujung tidak sibuk siang malam merumuskan. Jadi ini adalah meet time review. Ada beberapa hal yang cukup menarik yang kita dapat dari diskusi sebelumnya. Kita dalam soal TANNAS memakai TANNAS LEMHANNAS sebagai referensi utama, tapi menurut saya, kita boleh mengeluarkan pendapat-pendapat baru yang 100 persen tidak sama dengan LEMHANNAS, karena pikiran kita adalah hasil pikiran yang relevan dengan cara kita berpikir. Nanti kita punya tiga produk yang sebetulnya menjadi satu karena pola pikirnya harus satu.ada catatan pribadi yang masing-masing kita bisa tuangkan untuk melengkapi referensi kita yang belum rampung. Ada tambahan dari Pak Darjatun yang inti pokoknya adalah TANNAS walaupun dibagi dalam gatra-gatra, dalam bidang-bidang tetapi yang penting adalah interaksi atau sinergi antar bidang, baik positif maupun negatif, makanya disebut sinergi sebagai faktor X dalam TANNAS. Yang kedua adalah memisahkan antara sosial dan budaya. Dari gatra-gatra ini beliau mengatakan ini ada dua bidang yang susah yaitu bidang ideologi dan bidang budaya. Kalau ekonomi dan politik ada indeks yang bisa dipakai, tapi ideologi dan budaya susah menentukan indeksnya. Itulah mengapa bidang sosial dan budaya dipisahkan dalam pemikiran beliau.

Legislasi tidak membuat konsep, tapi lebih mempelajari. Tugasnya mempelajari produk-produk legislasi seperti apa yang menunjang, bukan menerjemahkan, tapi apa yang dibutuhkan untuk bisa menjalankan dan mengusulkan strategi apa yang dipakai.

  1. Pak La Ode

Kita harus ada kesepakatan, bahwa kerangka adalah pegangan. Misalnya, Pak Dzaky bertanggung jawab dalam aplikasi. Kemudian paper akademis turun untuk legaldrafting yang nantinya menjadi dasar perundang-perundangan. Kemudian sistem pembangunan ketahanan di pak Yani akan memudahkan kita untuk menulis menyeluruh. Sehingga kita tidak perlu lagi mencari serpihan-serpihan buku.

Indonesia hidup ditengah-tengah global, harus kita review perkembangan dari masa lalu seperti apa, evolusi bangsa-bangsa didunia ini. Ideologi dulu yang dikembangkan, lalu casenya seperti bangsa-bangsa timur tengah, eropa, lalu asia tenggara. Dalam membahas dibuku ini harus didahulukan dari tahap awalnya seperti apa.

  1. Pak Yani

Apakah kita masih mengikuti sistem yang dari awal kita buat atau bagaimana Pak?

(Tanggapan Pak Iman)

Ini adalah kesimpulan dari stering komite bahwa kita akan membuat sistematika yang baru, dengan cara berpikirnya kedepan sesuai Pak Lajatun. Tapi kalau komisi bapak masih mau menggunakan yang lama ya tidak apa-apa.

Soalnya kalau dari Pak Lajatun hanya ada tiga poin pak, tapi kami setuju dengan yang dikatakan Pak La Ode tadi bahwa didalam pendahuluan itu ada dua teknik, yaitu Global pengaruhnya di Nasional dan Nasional pengaruhnya ke global. Deduktif analisis pak. Apapun tulisan adanya tiga, kepala, isi, penutup. Di kepalanya ini ada dua yaitu pendahuluan dan istilah & makna.

Sebenarnya didalam nasional itu, kita mencari isu-isu strategis nasional abru ditentukan sebagai apresiasi startegi nasional. Itulah yang menjadi RAPBN itu. Dari sana baru GBHN. Kalau sekarang Propernas tidak diajarkan.

Saya melihat secara total, kita ini membuat pokok-pokok pikiran tapi besar bahwa TANNAS ini belum ada legislasinya. Kalau kami sarankan kita ikuti yang kemarin dibuat atau pak La Ode buat kemarin untuk jadi pedoman. Karena menulis itu tidak sulit, tinggal pemikiran-pemikiran kita yang dituangkan.

  1. Pak Zacky

Kehadiran bangsa ini tidak terlepas dari bangsa bangsa lainnya dan tidak lepas dari nilai-nilai globalisasi disatu pihak. Buku ini berisi nilai dan pokok pikiran yang menjadi kerangka penting untuk menjadi pedoman kita.

Pertama etika dalam berbangsa dan bernegara, kita mengetahui persis bahwa nilai-nilai pancasila itu tidak bisa landing dari agama agama dan kearifan lokal semakin tumpul bukan hanya karena distrasses tapi karena pemahaman dari etika itu sendiri harus dibenahi kembali. Sarat nilai yang tergantung dalam Pancasila, tidak hanya nilai agama yang dianut masyarakat tetapi juga memuat nilai universal kemanusiaan, dan memperkukuh ras kemanusiaan dalam persatuan, serta nilai yang memberikan landasan dalam mekanisme kepemimpinan, disamping nilai yang menjadi cita-cita luhur yaitu keadilan. Merupakan nilai yang bukan sekedar menjadi titik temu namun menjadi Landasan moral atau nilai dasar dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Penting kita menunjukkan bahwa etika dalam berbangsa dn bernegara itu tidak lain adalah niali pancasila itu sendiri. Etika bukan hanya sekedar nilai kepantasan hidup akan tetapi mengandung nilai komitmen dalam perjuangan kehidupan. Setiap manusia sangat ditentukan oleh peran etikanya sehingga kualitas manusia terletak pada etikanya. Ini menumbuhkan kesadaran etika bermasyarakat dan bernegara. Kaitan antara hukum adat dan hukum positif secara antropolgis manusia hidup dalam berkelompok yang terikat oleh norma kelompoknya, yang diwariskan secara turun temurun dan dinamakan adat. Dalam batas tertentu ketentuan adata diikuti oleh mansyarakat dan disebut hukum adat kemudian hukum adat didalam UUD 1945 hasil amandemen diberikan tempat selama hukum adat itu masih diajlankan oleh masyarakatnya. Adat dalam kehidupan berbangsa dan bernegara diakui adanya, kemudian dijadikan hukum positif dimana hukum itu dianut oleh masyarakatnya setempat. Dalam rumusan KUHP yang baru, itu dirumuskan bahwa ditempatkan hukum adat menajdi yang mengikat bagi masyarakat setempat.

Ketahanan nasional di negara hukum. Indonesia sebagai negara hukum menjadi hukum unsusr yang strategis sebagai bentuk sikap cinta tanah air. Jadi hukum itu sendiri adalah membangun sikap pengabdian terhadap cinta tanah air. Posisi hukum seperti ini dapat diwujudkan dan dapat mewujudkan dan dapat membentuk ketahanan nasional. Negara hukum juga memberikan konsekuensi kepada warganya bahwa wajib menjalankan dan menaati hukum karena siapa saja yang tidak menaati, menjalan hukum berarti ia mengkhianati negaranya. Itu kosekuensinya Indonesia sebagai negara hukum.

Subbab ketiga kiranya bisa disesuaikan karena agar tidak berjudul agak vulgar. Perlu diinventarisasi dalam ketahanan nasional kemudian sebagai negara berkembang indonesia masih ahrus berbenah dalam menyusun peraturan perundang-undangan sehingga untuk melakukan pengorganisasian atau sinkronisasi setiap cabang hukum membutuhkan waktu dan keseriusan. Perlu meningkatkan BPHN yang tidak hanya mengkodifikasi hukum-hukum yang diberlakukan akan tetapi melakukan kajian yang serius agar tidak tumpang tindih.

 

Paparan Komisi-Komisi

  1. Pak La Ode

Sistim Ketahanan Nasional Indonesia untuk menjamin kelangsungan hidup bangsa. Bab 1 di pendahuluan, baik indonesia lahir dan berada di tengah bangsa – bangsa lain, karna ini buku akademis, maka ada filsafat dari TANNAS. Kedua adalah sosiologi politik TANNAS itu harus selalu ada, harus di drive dari literatur-literatur yang ada didunia. yang dijaman modern ini juga ada. kemudian perlu dipelajari karna melihat behavior yang bergerak di masyarakat. Ketiga, setelah merumuskna poin satu dan dua, kita melihat studi perbandingan seperti di romawi seperti apa, india seeperti apa, cina seperti apa, jepang, umayah, abassyah dan turki utsmani. Kemudian masuk di istilah dan makna. Kita harus pahami indonesia lahir seperti apa. Keempat adalah Perang Dunia 1 dan Perang dunia 2 sebenarnya adalah sebuah kosnpirasi global untuk menghancurkan otonamen player, yang dimana PD 1 yang ditembak adalah Putra Mahkota Rusia. Itulah kmeudian yang menjadi perubahan di dunia. Sebagai background akademis, di doktrin TANNAS kita tidak dirumuskan dengan baik dalam textbook. Kalau satu-satu ada.

Bab kedua, kajian TANNAS. Dalam kajian TANNAS, hampir sama, yang pertama melihat geografi terlebih dahulu, kemudian demografi dan ketiga adalah sumber daya kemanusiaan atau human capital yang sudah missing. Kalau human capital adalah bangsa mengembang dirinya dan menjadi obvensif dalam kegiatannya. Itulah yang dilakukan Jepang, Korea, Cina dan Malaysia serta India. Inilah tambahan yang unik dari buku ini.

Bab Tiga

Bab keempat politik TANNAS adalah internalisasi wawasan nusantara, terwujudnya integrasi nasional dan penguatan sistem politik nasional. Sumber masalahnya adalah partai politik, kemudian yang menjadi persoalan adalah dengan melakukan pembenahan partai politik nasional dalam buku ini. Itu akan dibahas dalam pembuatan sistem nasional.

Bab lima, yang abru adalah SISHANKAMRATA diera millenial yang menjadi judul besar. Problem yang dihadapi sekarang adalah design nasional yang dimasa lalu tidak memberikan tempat pada generasi millenial oleh karena itu mereka mencari tempat sendiri. Dan buku ini disiapkan untuk mereka. Makanya ada satu bab yang membahas masalah ini. Kedua, kajian ketahanan masyarakat dalam TANNAS baru sampai disini.

Kesimpulannya adalah bab satu, kita ahrus kembalikan didudukan yang memenuhi kaidah akademis. Yang bab dua kalau kita lihat adalah mengenai teori dasar ketahanan nasional itu dimasukkan mulai dari abad pertengahan eropa, dunia Islam, Asia Tenggara, Indonesia Pra Kemerdekaan itu Sriwijaya, majapahit dan Aceh. Kemudian kejuangan dan kebangsaan itu dimasukkan dalam teori dasar. Bab tiga, kajian TANNAS, sumber daya manusia diganti menjadi human capital yang mengandung kemerdekaan. Bab empatnya adalah politik TANNAS. Bab lima adalah hal baru dalam mengantisipasi, mengakomodasi Indonesia dalam masa depan, dengan demikian dikemudian hari peta jalan ada disana, dan bisa diapresiasi dalam akademisi. Sehingga bisa menjadi pelajaran di sekolah-sekolah dan universitas-universitas.

  1. Pak Yani

Melihat layout kelima dan keenam, secara prinsip yang dibuat pak La Ode dan kawan-kawan, ada beberapa yang kami kurang sependapat. Tapi akan kami paparkan milik kami terlebih dahulu.

Kami kebagian bab lima, dimana ada beberapa hal yang sangat panjang dibagian AGHD itu di layout lama. Kemudian di abru, hanya kecil sekali, padahal doktrin ini menjadi pembahasan pokok, namun hanya kebagian sub dan sub kecilnya lagi. Kami menyarankan ini jadi bab tersendiri.

Kemudian kami menyimpulkan bahwa didalam pendahuluan, untuk judul tulisan itu jangan lepas dari waktu kelima, lepas dari TANNAS, kemudian apakah ini palasic paper ataukah akademik. Kalau ini palasic paper akan ada pemecahan masalah, kalau akademik paper ada pemecahan masalah ada juga tidak, tapi lebih ringkas karena menohok kepada apa yang akan kita kupas. Kami tetap menyarankan dia tulisannya deduktif analisis. Dari sini kemudian isinya menjawab persoala-persoalan yang tadi. Yang kita kaji adalah bagaimana TANNAS, dan bagaima legislasinya, baru penutup. Kemudian menyempurnakan layout, menjawab judul TANNAS, kemudia menggabungkan lima dengan enam, dan layout jangan jadi sub karena menjawab inti masalah. Kemudian Astagrata mohon dibahas dengan lengkap dengan persoalan sekarang. Kemudian menajwab judul bahwa kita membutuhkan penguatan TANNAS, jadi doktrin TANNAS dan UU untuk memayunginya.

  1. Pak Zacky

Legislasi lebih banyak memberi masukan pada pak LA Ode, berbicara tentang TANNAS, tidak menukkik pada legislasinya. Pertama setuju dengan pak la ode karena kami ada tol demokrasi. Kemudian UU harus dinamis dan livin contitution. Kedaulatan negara, karena selama  ini biasanya hanya kedaulatan rakyat. kemudian ada hal-hal yang perlu dipikirkan bahwa bagaimana agar para oemangku kekuasaan jika dia tidak melakukan UU perlu latar belakang sebagai satu pemikiran agar ada sanksi. Karena kejatuhan rezim didunia ini karena bertentangan dengan UU dan kaidah kaidah . seperti pejabat yang menyalahi sanksi atau UU tidak mendapat hukuman apa-apa. Selanjutnya didalam outline, kepada pak iman. Ada outline di dalam legislasi yang diinterupsi yaitu tentang penertiban hukum. Saya kira ini tidak perlu ada dalam legislasi TANNAs, tapi dimasukkan dalam lampiran sebagai pandangan kita tentang hukum di Indonesia dan tumpang tindih hukum.

Jadi persoalan parpol penting untuk dikritisi karena ini menajdi titik strategis dalam TANNAS. Parpol sudah ada dalam UUD, kalau mekanisme dan kehidupannya emmbawa rentan dalam kehidupan berbangsa.

Pak Nur (Masukan)

Inilah tahap yang dikatakan pak Pontjo tadi. Sebenarnya kita dapat melakukan penyerasian, yaitu bagaimana rumusannya sesuai dengan antara 5, 6 dan kekuatan itu ada di pendahuluan kemudian dijabarkan lebih lanjut dan diakhir di penutup. Supaya satu sama lain kompak.

 

SARAN

  1. Pak Urip : Saya membayangkan outputnya buku yang dibaca khalayak ramai yang kita tidak bisa pastika dia berlatar belakang apa. Ketika membaca buku, orang aan melihat daftar isi dan kesimpulan. Ketika saya sebagai pembaca buku, saya ingin tahu dia bercerita dari A-z kemudian sejarah ada doktrin buat saya itu cerita. Atau sebuah buku untuk pemecahan masalah nah inilah yang bisa tertarik di masyarakat.
  2. Ibu Dian : Produk ini nanti apakah hanya dibuat dalam satu buku atau satu ahsil kajian yang khsuus disampaikan kepada oemerintah. Menurut hemat saya, kalau dalam buku khalayak umum atau publik yang membaca tidak mungkin tidak sedetail dengan apa yang akan kita sampaikan kepada pemerintah.
  3. Pak Hendri : Ini produknya tidak hanya buku tapi juga ebook dan bisa diakses oleh anak anak zaman now atau masyarakat, dan untuk bisa sampai kesana, kita baiknya menggunakan editor yang professional sehingga mudah menerbitkan lewat gramedia dan lainnya. Akan menajdi second opinion bagi kita apabila editor menyampaikan sarannya maka kita bisa bahas bersama dengan editornya.

 

Tanggapan

  1. Pak Zacky : dari apa yang sudah ditanggapi, ada tiga produknya, buku, statement recomendation, dan ketiga adalah draft rancangan UU TANNAS. Tiga hal ini menjadi penting dari layout pertama yang kita bahas.
  2. Pak La Ode : yang ada itu adalah makalah-makalah, pisah-pisah. Kemudian terpikir bahwa harus ada buku TANNAS yang kayak babonnya begitu, itu yang harus dicapai sebenarnya. Kalau babon tentu umurnya panjang, maka dia harus memenuhi kriteria akademis. Dari buku akademis dan 18 kali pertemuan bisa melahirkan plosestadis yang ada rekomendasi, itu adalah turunan. Kedua, bisa melakukan legal drafting yang bisa dipakai pengambil keputusan. Kalau tambahan yah formulasi untuk bisa dipraktekkan. Kalau kita sampai segitu ya setuju ada. Jangan lupa kita adalah indpeenden institution kita harus kemudian wawasan kedepannya itu harus lebih panjang akrena ada intitusi yang dibanguin pada perubahan perubahan yang berbeda. Supaya kedepan kita bisa menjadi rujukan bangsa.

Tambahan Pak Iman

Kita akan mencoba menjahit komisi ini dalam satu outline yang baru, outline nomor 7 mungkin yang akan disusun oleh tim kecil yaitu Pak Kusubandio (Tim Pak La Ode), Pak Hendri (Tim Pak Yani),  Pak Darmawan (Legislasi) dan Pak Wisnu untuk membantu menjembatani perwakilan tiga komisi yang tadi.

Usulan Pak Wisnu

Kita bikin jangan satu buku, kita buat minimum dua buku, satu bisa babon untuk sepanjang masa, sedangkan untuk legislasi, TANNAS bisa disesuaikan dari waktu kewaktu. Sehingga induk buku bisa longlife sedangkan yang lain konseptual sesuai dengan zamannya.