IKUTI KAMI DI MEDIA SOSIAL
IKUTI KAMI DI MEDIA SOSIAL

Marginalisasi Nelayan Indonesia Dimulai Lewat Bahasa

Oleh: Irawan Djoko Nugroho
Artikel Ini Merupakan Artikel Diseminasi Makalah DPS YSNB 3 Karya Bona Beding

Kemiskinan masyarakat yang hidup di kawasan pesisir yang notabene adalah nelayan di Indonesia demikian menyedihkan. Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2008, penduduk miskin di Indonesia mencapai 34,96 juta jiwa dan 63,47 persen di antaranya adalah masyarakat yang hidup di kawasan pesisir dan pedesaan. Tahun 2010 angka kemiskinan yang dikeluarkan BPS terakhir mencapai 35 juta orang atau 13,33 persen dari jumlah penduduk yang mencapai sekitar 237 juta jiwa, sedangkan bank dunia melaporkan kemiskinan di Indonesia masih sekitar 100 juta.

Kemiskinan para nelayan ini bahkan lebih buruk dari pada masyarakat yang hidup di daerah pedesaan atau para petani. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, nelayan dan petani berarti sebagai berikut.

Kata nelayan menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi Kedua, 1991, h.686 pengertiannya ialah orang yang mata pencaharian utamanya dari usaha menangkap ikan (di laut). Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi Kedua, 1991, h.686 Sedangkan Pelaut didefinisikan sebagai: orang yang pekerjaannya berlayar di laut; nelayan (h.570).

Sedangkan kata petani memiliki pengertian: orang yang mata pencahariaannya dalam bentuk bercocok tanam (mengusahakan tanah dengan tanam-tamanan=bertani) Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi Kedua, 1991, h.1008.

Dari hal tersebut, maka nelayan dapat dikatakan tidak memiliki hak kelola lahannya sebagaimana para petani. Karena tidak ada wilayah milik yang diusahakan. Laut sebagai lahan nelayan adalah bebas dan bisa milik siapa saja. Siapa yang bisa mencari ikan, itulah sang pemilik lahan itu.

Kondisi ini kiranya keliru. Karena itu dapat dikatakan bila nelayan merupakan sebuah bentuk marginalisasi yang sangat menyesatkan. Pengertian nelayan terlalu sederhana untuk mewakili pengertian yang sesungguhnya. Menurut adat asli Indonesia, salah satunya masyarakat Lamalera, mereka tidak mau menyebut diri mereka bukan sebagai nelayan atau fisherman tapi Lefaalep (Lefa=Laut, Alep=Yang empunya). Lefaalep kalau diterjemahkan maknanya adalah: Kami yang punya laut.

Sebagai pemilik laut, maka ada hak pengelolaan laut selain hanya menangkap ikannya. Hak ini yang ternyata dihilangkan perlahan melalui bahasa. Ironis.

Sumber Acuan:

Bona Beding, Genealogi Laut: Dialektika Bahari vs Maritim Eksistensi Laut Dalam Sastra Laut Lamalera, Makalah Diskusi Panel Serial Ketiga YSNB, Jakarta, 7 Desember 2013.aa

Bagikan ya

Leave a Reply