IKUTI KAMI DI MEDIA SOSIAL
IKUTI KAMI DI MEDIA SOSIAL

Cetak Biru Pendidikan Petakan Kondisi Masa Depan

Sambil penyusunan cetak biru pendidikan berjalan, pemerintah bisa lebih dulu mendorong ekosistem pendidikan lebih esensial.

JAKARTA – Sektor pendidikan memiliki peranan penting dalam pembangunan sumber daya manusia. Di sisi lain, sektor pendidikan tidak bisa dituntut untuk memberi dampak dalam waktu singkat sehingga pemerintah perlu menyusun kerangka jangka panjang dalam bentuk blue print atau cetak biru.

“Penting memiliki kerangka jangka panjang yang cukup umum menggambarkan arah dan tujuan yang ingin dicapai SDM melalui pendidikan,” ujar pakar pendidikan dari Pusat Studi Pendidikan dan Kebijakan (PSPK), Najeela Shihab, dalam acara webinar, di Jakarta, Selasa (21/4). Najeela menilai pembuatan cetak biru tersebut perlu berangkat dari kebutuhan masa depan. Adapun salah satu tujuannya agar para peserta didik di Indonesia mampu menguasai keterampilan dan kompetensi yang sesuai dengan masa depan. Ia juga menyebut cetak biru harus detail mengarahkan seluruh pemangku kepentingan di bidang pendidikan. Pasalnya, banyak sekali pihak yang terlibat, tapi setiap pihak memiliki kepentingan sendiri sehingga mengesampingkan tujuan bersama dalam peningkatan SDM melalui pendidikan.

“Tanpa pemahaman ini saya khawatir cetak biru itu hanya relevan dalam jangka waktu sekarang atau periode politik tertentu,” jelasnya. Untuk itu, dalam penyusunannya Najela meminta semua pihak harus terlibat. Tidak hanya pemerintah pusat saja dalam hal ini Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud), tapi juga kementerian dan lembaga lain sampai pemangku kebijakan terkecil yaitu peserta didik. Lebih jauh disampaikan, sambil penyusunan cetak biru pendidikan berjalan, pemerintah bisa lebih dulu mendorong ekosistem pendidikan lebih esensial dengan melahirkan para pemimpin di tiap tingkatan sektor pendidikan. Menurutnya, pemimpinpemimpin di tingkat lebih kecil seperti kepala sekolah dan kepala dinas, seringkali jauh berpengaruh dalam menentukan arah pendidikan dibanding ada di tingkat makro.

“Semua pemangku kepentingan bisa ambil peran selama tidak melulu merasa jadi korban, ingin berdaya, dan mau menggerakan perubahan,” tandasnya. Perlu diketahui, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud), Nadiem Makarim pernah mengutarakan bahwa dalam masa jabatannya akan membuat cetak biru pendidikan, pada penghujung bulan Desember tahun 2019. Ia menyebut pihaknya akan membuat cetak biru tersebut dalam waktu enam bulan.

Perlu Kejelasan

Pada kesempatan yang sama, Anggota Komisi X (sepuluh) DPR RI, Ferdiansyah menyebut pihaknya menanti kejelasan dari pernyataan Mendikbud tersebut. Pasalnya, wacana cetak biru pendidikan bukan hal baru dan telah bergulir sejak tahun 2007.

”Tapi tampaknya cetak biru belum berpihak kepada kita, sehingga sampai sekarang cetak biru belum dibuat,” ujarnya. Ia memaparkan cetak biru jadi penentu tujuan yang ingin dicapai melalui sektor pendidikan. Menurutnya, ada empat hal yang bisa menjadi batasan masalah dalam pembuatan cetak biru tersebut yaitu akses, mutu, relevansi dan daya saing, serta tata kelola pendidikan.”Batasan tersebut selain bisa menjawab situasi saat in juga mendorong para pelaku di sektor pendidikan bergerak sesuai arahan yanga ada,” imbuhnya.

Disalin dari : Koran-jakarta.com
Penulis : ruf/AR-3
Terbit : 22/4/2020 06:00

Bagikan ya

Leave a Reply