IKUTI KAMI DI MEDIA SOSIAL
IKUTI KAMI DI MEDIA SOSIAL

Pentingnya Trimatra Pendidikan Guna Membangun Warganegara Indonesia Unggul

Forum Diskusi Kelompok “Pendidikan Sebagai Penjuru dalam Membangun Warga Negara Indonesia Unggul”, seri ke-7, yang diselenggarakan pada tanggal 18 Maret 2020 yang lalu, telah mengangkat tema: “Refleksi dan Proyeksi UU Sistem Pendidikan Nasional”. Tema “Refleksi dan Proyeksi” ini, dimaksudkan untuk mengkonsolidasikan hasil-hasil dari FDK-1 s/d FDK-6 yang sudah dilaksanakan sebelumnya, dan mencoba memproyeksikan ke depan, upaya-upaya perbaikan apa yang kami pikirkan, akan dapat diusulkan kepada semua pemangku kepentingan Sistem Pendidikan Nasional kita.

Sekalipun rangkaian FDK Pendidikan ini pada awalnya akan membahas keseluruhan subsistem Pendidikan Nasional, sehingga kami rancang akan memakan waktu hingga akhir tahun 2020, namun dengan gencarnya pemberitaan tentang perubahan-perubahan yang akan dilakukan oleh Menteri Pendidikan Nadiem Makarim di awal masa jabatan beliau, maka kami sebagai anggota masyarakat ingin berpartisipasi dalam pembangunan di bidang pendidikan. Salah satunya dengan menyampaikan “feed-back” tentang hasil kajian kami kepada beliau, sekalipun hanya akan mencakup dua sub-sistem yang sudah selesai kami laksanakan. Yaitu, tentang masalah peningkatan Kualitas Guru dan sistem Kurikulum di Sekolah Dasar dan Menengah di Indonesia.

Sistem Pendidikan Nasional Masih Menghasilkan Hasil Yang Kurang Memuaskan

Dalam kesempatan itu, Prof Mukhlas memberikan pandangannya bahwa, selama perjalanan 75 tahun Indonesia merdeka, sistem pendidikan nasional kita telah mengalami berbagai upaya perbaikan, namun demikian, dalam implementasinya kita masih melihat hasil-hasil yang kurang memuaskan. Seperti misalnya, ditunjukkan oleh berbagai indikator, a/l dalam standar PISA, pada tahun 2019, skor membaca Indonesia berada pada peringkat 72 dari 77 negara; skor matematika berada pada peringkat 72 dari 78 negara; dan skor Sains berada pada peringkat 70 dari 78 negara. Pengukuran atas hal yang sama pada tahun-tahun sebelumnya pun tidak banyak menunjukkan perubahan, senantiasa pada kelompok 10 negara terendah.

Sementara dalam kehidupan sosial budaya, kita membaca terjadinya berbagai kasus yang mencemari dunia pendidikan kita. Seperti misalnya, peristiwa seorang pelajar yang berani memukuli gurunya didepan murid-murid lain didalam kelasnya. Atau sebaliknya, peristiwa di mana seorang guru menghukum seorang pelajar dengan tindakan kekerasan, dan masih banyak peristiwa-peristiwa serupa lainnya.

Juga dalam semangat kebangsaan, nilai-nilai Pancasila dirasakan telah luntur. Politik identitas, intoleransi SARA maupun ujaran-ujaran kebencian dalam kehidupan politik banyak dilancarkan. Menjadi pertanyaan kemudian, kemana hasil penataran P-4 yang telah digencarkan selama bertahun-tahun, di masa sebelum reformasi yang lalu?

Dari gambaran di atas, lengkap sudah, Krisis Kebudayaan dan peradaban yang dialami bangsa kita dewasa ini.

Pendidikan Indonesia Perlu Diformat Ulang Agar Lebih Memanusiakan Manusia

Dengan latar belakang kondisi bangsa seperti di atas, Prof Mukhlas mengajak kita untuk kembali mengingat arti dasar dari pendidikan, yakni:

Pendidikan pada hakekatnya upaya untuk memanusiakan manusia (humanizing human being), sehingga pendidikan bertugas membantu anak didik mengembangkan diri agar pada saatnya dapat memerankan dirinya secara kodrati, yang pertama: sebagai hamba Tuhan YME, yang kedua. sebagai bagian dari masyarakat dan lingkungan kehidupan di mana dia tinggal serta yang ketiga, sebagai warga negara. Keharmonian dalam mengaktualisasikan diri pada tiga peran diatas itulah, yang akan menjadi “titik incar” pendidikan kita.

Selama mengikuti pendidikan sejak usia dini sampai dewasa dan berkarya, seorang anak tidak pernah berhenti belajar, mengikuti pendidikan informal, formal, dan non-formal, dan bahkan belajar dari alam lingkungan dimana ia hidup. Proses pendidikan, menyiapkan anak didik agar pada saatnya, ia dapat menampilkan kinerja yang optimal, apapun profesi dan posisinya dalam kehidupannya kelak dikemudian hari.

Kinerja (Performance) yang optimal memerlukan keterampilan pada tiga domain: yaitu generic skills (kompetensi), specific skills (konten) dan karakter. Oleh karena itu dalam proses pendidikan ketiganya harus dikembangkan secara bersama, saling melengkapi, tidak dapat dipisahkan, dan seimbang satu sama lain, agar anak dapat tumbuh sempurna. Demikian antara lain pesan Ki Hajar Dewatara.

Pendidikan Indonesia Harus Mampu Mengasah Kecerdasan Spiritual, Kecerdasan Emosional, dan Kecerdasan Intelektual

Berangkat dari dua titik tolak berpikir di atas, maka pendidikan harus mampu mengasah “kecerdasan spiritual”, “kecerdasan emosional” dan “kecerdasan intelektual” setiap peserta didik, (Prof.Mukhlas dalam Makalahnya 18 Maret 2020). Dengan “kecerdasan spiritual”, seorang individu berkeyakinan dan percaya bahwa, pada hakekatnya manusia adalah ciptaan Allah Swt, yang diturunkan ke dunia untuk menjalankan amal-ibadah sesuai perintah Nya. Untuk itu Allah SWT, telah membekali manusia dengan “akal” dan “rasa”. Dan dengan akal dan rasa ini pula manusia memperoleh “kecerdasan-spiritual” nya.

Sesuai perintah Nya, manusia hidup berkelompok dalam suku maupun bangsa-bangsa di dunia. Dengan kecerdasan spiritualnya tadi manusia membangun nilai-nilai Kebajikan (moral virtue) dan nilai-nilai budaya sebagai pedoman berperilaku di dunia. Berbekal “akal” dan “rasa” ini pula, manusia memperoleh kecerdasan intelektual dan kecerdasan emosionalnya.

Dengan demikian, pendidikan harus mampu membentuk moral Ketuhanan Yang Maha Esa dalam diri tiap orang, dan kepekaan sosial-budaya untuk dapat menyesuaikan diri dengan norma-norma kehidupan bersama anggota lain dalam satu lingkungan masyarakat maupun lingkungan negara bangsa, dimana ia menjadi anggota dan bagian darinya. Masyarakat Indonesia yang terdiri dari berbagai suku bangsa yang memeluk agama, dan memiliki kepercayaan kepada Tuhan YME masing-masing, di samping pula masing-masing mempunyai adat-istiadat setempat yang berbeda-beda, telah bersepakat untuk membentuk satu bangsa, bangsa Indonesia, yang berbahasa satu, Bahasa Indonesia dan bertanah air satu, Tanah Air Indonesia.

Tri Matra Pendidikan Wajib Menjadi Bagian dari Kurikulum Pendidikan Nasional

Oleh karenanya, dalam kurikulum pendidikan nasional Indonesia, kita membangun kecerdasan di ketiga matra di atas, yakni logika, etika dan kebangsaan. Kami canangkan ruang lingkup pendidikan di atas sebagai “Trimatra Pendidikan”, untuk membangun manusia Indonesia menjadi Warganegara Indonesia Unggul. Manusia Indonesia yang mempunyai keunggulan pada ranah mental-spiritual, ranah institusional-politikal maupun pada ranah material-teknologikal dalam kehidupan berbangsa dan bernegara kesatuan Republik Indonesia. Ketiga ranah kehidupan di atas adalah merupakan satu kesatuan, bukan tiga bagian yang terpisah satu sama lain, namun saling berkelindan membentuk satu kesatuan sinergis, yang berpusat pada keunggulan mental spiritual manusia Indonesia.

Keunggulan dalam ranah mental spiritual, menggambarkan manusia Indonesia yang berkepribadian matang berazaskan Pancasila, berjiwa patriot dan nasionalis sebagai warganegara Indonesia dan menguasai Ilmu Pengetahuan dan Teknologi untuk membangun peradaban bangsa, agar mampu eksis ditengah persaingan global antara bangsa-bangsa di dunia. Keunggulan dalam Logika, Etika dan Semangat Kebangsaan manusia Indonesia inilah yang akan menjadi faktor penentu bagi keberhasilan bangsa Indonesia dalam membangun keunggulan pada ranah-ranah berikutnya. Baik ranah institusional-politikal maupun ranah material teknologikal.

Keunggulan ranah institusional-politikal, menggambarkan kemampuan manusia Indonesia dalam melaksanakan tata-kelola penyelenggaraan kehidupan berbangsa dan bernegara Indonesia, menjadi bangsa yang berdaulat dalam politik, mandiri dalam ekonomi dan berkepribadian dalam kebudayaan. Keunggulan ranah material teknologikal menggambarkan kemampuan penguasaan Ilmu Pengetahuan dan teknologi manusia Indonesia, membangun produktivitas bangsa Indonesia untuk memenangkan persaingan dan pertarungan peradaban antar bangsa-bangsa di dunia.

Pada akhirnya (last but not least), “Pendidikan” merupakan kata kunci dari keberhasilan kita membangun keunggulan di ketiga ranah di atas.

Uraian di atas, bukanlah sekedar angan-angan menggantang asap sebagai slogan kosong belaka. Sampai saat ini kami tengah dan terus menindaklanjuti rangkaian FDK Pendidikan di atas, dengan kajian-kajian bersama para pakar pendidikan dan ilmu sosial politik lainnya, untuk menghasilkan satu naskah akademik yang akan kami sarankan kepada para pemangku kepentingan Pendidikan yang tengah mempersiapkan RUU Sistem Pendidikan Nasional yang baru, dalam rangka menyempurnakan UU Sistem Pendidikan Nasional tahun 2003 yang berlaku kini.

Tulisan-tulisan dalam kolom lain di Website ini, akan memberikan gambaran secara lebih tajam mengenai kondisi penyelenggaraan pendidikan nasional kita dewasa ini, serta upaya-upaya apa yang harus dilakukan untuk memperbaikinya.

Semoga Allah swt senantiasa meridhoi upaya kita bersama.. Aamiin.

Ketua YSNB
Wisnubroto

Bagikan ya

Leave a Reply

TONTON DULU GAES