IKUTI KAMI DI MEDIA SOSIAL
IKUTI KAMI DI MEDIA SOSIAL

Indonesia Darurat Quarto Helix

Quarto Helix adalah hubungan antara Perguruan Tinggi, Industri, Pemerintah, dan Masyarakat. Tanpa adanya hubungan yang selaras, maka pendidikan yang ada menjadi kurang memiliki dampak yang signifikan. Sebab apalah artinya budaya dan pendidikan tanpa teknologi dan industri.

Dalam kolaborasi kelembagaan Quarto Helix, tugas menghubungkan perguruan tinggi/lembaga riset dan dunia usaha/industri adalah tugas pemerintah. Namun peran ini belum dilaksanakan oleh pemerintah secara maksimal.

Perlu Segera Kebijakan Yang Membuat Hasil Risbangtek Terhilirisasi

Menurut Pembina YSNB Pontjo Sutowo, dengan belum adanya hubungan yang baik antara Perguruan Tinggi, Industri, Pemerintah, dan Masyarakat maka riset dan pengembangan teknologi (risbangtek) yang dihasilkan oleh perguruan tinggi belum terhilirisasi dengan baik ke dunia usaha/industri maupun ke masyarakat. Sebagai akibatnya, mereka belum mampu berkontribusi secara signifikan dalam mendorong percepatan penguasaan teknologi bangsa Indonesia.

“Pada era saat ini penguasaan teknologi menjadi kunci utama sebuah negara maju. Karena itu semua stakeholder perlu mendorong percepatan penguasaan teknologi agar Indonesia mampu bersaing dengan negara lain di ranah global”, kata Pontjo Sutowo di Jakarta, (17/6/2020).

Karena itu Pontjo Sutowo berharap agar pemerintah mampu dapat membuat kebijakan yang membuat hasil risbangtek yang dilakukan perguruan tinggi dapat dihilirisasi dan dihubungkan dengan dunia usaha atau industri. Sebab tanpa hal itu, teknologi tidak mungkin berkembang tanpa dunia usaha/industri.

“Seharusnya, hasil risbangtek yang dilakukan perguruan tinggi dapat dihilirisasi dan dihubungkan dengan dunia usaha atau industri. Karena, teknologi tidak mungkin berkembang tanpa dunia usaha atau industri, lanjut Pontjo Sutowo.

Hasil Risbangtek Masih Sebatas Mengejar Publikasi

Di tempat yang sama, Ketua Penyusun Naskah Akademik Sistem Kebudayaan dan Pendidikan Nasional Prof. Dr. Yudhie Haryono mengatakan jika hasil risbangtek yang dilakukan oleh perguruan tinggi saat ini seringkali masih sebatas mengejar publikasi ilmiah terutama yang terindeks scopus, prototype, hak paten dan sejenisnya.

Sementara itu untuk hilirisasi hasil risbangtek ke masyarakat, perguruan tinggi dicatat telah melakukannya melalui program “pengabdian masyarakat”. Menurut Yudhie Haryono kembali, hilirisasi hasil-hasil risbangtek perguruan tinggi ke dalam masyarakat, relatif sudah terjembatani dengan skim-skim pendanaan yang disediakan oleh Pemerintah melalui Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM, Dikti). Skim-skim pendanaan yang disediakan pemerintah antara lain: Program Kemitraan Masyarakat, Program Pengembangan Kewirausahaan, Program Pengembangan Produk Unggulan Daerah, Program Penerapan Iptek Kepada Masyarakat, dan lain-lain. Hanya saja sayangnya hal tersebut belum cukup.

“Perlu didorong lagi adanya sinergi quarto helix dalam memecahkan berbagai masalah yang dihadapi masyarakat dan industri secara komprehensif dan berkelanjutan, sehingga hasil-hasil risbangtek dari perguruan tinggi menjadi lebih bermakna”, kata Yudhie Haryono.*(DN)

Bagikan ya

Leave a Reply