IKUTI KAMI DI MEDIA SOSIAL
IKUTI KAMI DI MEDIA SOSIAL

Cara Membersihkan dan Keluar Dari Dosa Sosial

Dosa sosial adalah sebuah dosa yang dilakukan secara sosial. Menurut Mohandas K. Gandhi, ada tujuh macam dosa sosial. Ketujuh dosa sosial tersebut adalah sebagai berikut.

Pertama. Politik tanpa prinsip. Kedua. Kekayaan tanpa kerja keras. Ketiga. Perniagaan tanpa moralitas. Keempat. Kesenangan tanpa nurani. Kelima. Pendidikan tanpa karakter. Keenam. Sains tanpa humanitas. Terakhir, peribadatan tanpa pengorbanan.

Penyebab Dosa Sosial

Dosa sosial pada dasarnya dapat terjadi karena adanya pemimpin yang tidak amanah dan rakyat yang diam dan membiarkannya. Jika dilihat dari karakternya, peluang utama melakukan dosa sosial terletak bagi mereka yang memikul amanah kepemimpinan. Sebab kedudukan atau jabatan yang diembannya tidak digunakan kepada hal yang semestinya, namun lebih digunakan untuk menindas, korupsi dan mengambil hak orang lain.

Menariknya, ketujuh dosa ini ternyata sekarang telah menjadi warna dasar dari kehidupan bangsa Indonesia. Kehidupan kota (polis) yang mestinya menjadi basis keberadaban (madani) terjerumus ke dalam apa yang disebut Machiavelli  sebagai “kota korup” (citta corrottisima), atau apa yang disebut Al-Farabi sebagai “kota jahiliyah” (almudun al-jahiliyyah).

Dan yang paling nyata bangsa ini hadapi, adalah ancaman krisis perekonomian seperti ditandai oleh merosotnya nilai tukar rupiah, jatuhnya indeks saham gabungan, jatuhnya harga komoditi andalan, menurunnya penerimaan pajak, serta ancaman pemutusan hubungan kerja dalam skala massif. Selain itu, bangsa ini juga dihadapkan pada ancaman lima macam krisis yang ditengarai oleh Bung Karno pada 1952.

Pertama, krisis politik, yang membuat banyak orang tidak percaya lagi kepada demokrasi. Kedua, krisis alat-alat kekuasaan negara. Ketiga, krisis cara berpikir dan cara meninjau. Keempat, krisis moral. Kelima, krisis gejag (kewibawaan otoritas).

Cara Membersihkannya

Untuk membersihkan dosa sosial, sebenarnya bukan merupakan pekerjaan yang sulit. Hanya diperlukan sebuah visi politik baru. Selepas pembersihan, selanjutnya perlu melakukan cara agar keluar dari jeratan dosa sosial.  Caranya pun mudah. Hanya dengan memperkuat kembali fundamen etis dan karakter bangsa berlandaskan dasar falsafah dan pandangan dunia bangsa Indonesia sendiri.

Ibarat pohon, sejarah perkembangan bangsa yang sehat tidak bisa tercerabut dari tanah dan akar kesejarahannya, ekosistem sosial-budaya, sistem pemaknaan (signification), dan pandangan dunianya tersendiri. Adapun pandangan dunia bangsa Indonesia sendiri adalah Pancasila. Pancasila ini dirumuskan oleh para pendiri bangsa sebagai dasar dan tuntutan bernegara dengan mempertimbangkan aspek-aspek tersebut, lewat usaha penggalian, penyerapan, kontekstualisasi, rasionalisasi, dan aktualisasinya dalam rangka menopang keberlangsung dan kejayaan bangsa.

Dengan terus menggali kembali mutiara yang terpendam itu, kemudian mengargumentasikan dan mengkontekstulisasikannya dalam kehidupan semasa, dan mengupayakan aktualisasinya dalam kehidupan masa kini dan masa depan, maka keluar dari dosa sosial akan menjadi sebuah keniscayaan.*

 

Penulis:  Irawan

Sumber: Makalah Relevansi Pancasila Dalam Hidup Kekinian, Yudi Latief.

 

 

 

 

Bagikan ya

Leave a Reply

TONTON DULU GAES