IKUTI KAMI DI MEDIA SOSIAL
IKUTI KAMI DI MEDIA SOSIAL

Menggali isi prasasti Airlanggadi museum India

Pemerintah kembali bakal memulangkan salah satu benda warisan budaya yang ada di luar negeri. Kali ini adalah sebuah prasasti yang tersimpan di Museum India di Kalkuta India. Prasasti ini dibawa ke India oleh Belanda pada abad ke-20. Kedutaan Besar RI di India menyatakan pemerintah segera memproses pemulangan prasasti yang berasal dari abad ke-11 ini.

“Kami sudah melaporkan temuan Prasasti Pucangan ini pada April 2021. Semoga pertemuan selanjutnya sudah ada langkah lebih maju untuk pemulangan,” kata Hanafi, kemarin. Dalam diskusi sempat ditunjukkan foto foto kondisi Prasasti Pucangan di Museum Kalkuta, India. Ada dua foto yang dibahas. Foto pertama menunjukkan prasasti yang ditemukan di sekitar Gunung Penanggungan, Jawa Timur ini, teronggok di sudut sebuah ruangan yang menyerupai gudang. Foto kedua kemudian memperlihatkan prasasti yang berasal dari era Raja Airlangga, Mataram Baru, ini sudah dipindahkan ke ruangan khusus dan sudah memiliki kuratornya. Ada staf KBRI yang berfoto bersama staf musim di samping prasasti tersebut.

Hanafi menegaskan dari Prasasti Pucangan dianggap benda budaya yang penting. Sesuai dengan amanat UU Cagar Budaya maka prasasti itu harus dilindungi dan dibawa pulang ke Indonesia untuk dirawat dan dipelajari. Ia berharap pemerintah pusat bisa secepatnya menindaklanjuti laporan KBRI New Delhi, menindaklanjutinya dengan mengadakan pertemuan pertemuan sesuai prosedur pengembalian barang budaya.

Prasasti Pucangan adalah prasasti yang dipahat disebuah lempengan batu besar. Prasasti ini ditulis dalam bahasa Jawa Kuno dan bahasa Sanseskerta. Prasasti ditulis dengan menggunakan aksara Jawi. Prasasti ditemukan di era Gubernur Hindia Belanda Thomas Stanford Raffles, yang kemudian mengirimkannya ke Lord Minto di India.

Prasasti, menurut Agus Aris Munandar, berisi informasi yang amat penting bagi benang merah sejarah peradaban Indonesia. Prasasti itu menjelaskan kondisi geopolitik Jawa Tengah-Jawa Timur. Karena memuat informasi perpindahan kekuasaan dari Mataram Kuno di Jawa Tengah ke Mataram Baru di Jawa Timur yang diinisiasi Mpu Sindok. “Agak gelap kondisi di abad ke-10 dan abad ke-11 tanpa informasi yang diperoleh dari Prasasti Pucangan,” kata Agus Aris.

Agus Aris lalu menjelaskan muasal kata ‘Pucangan’. Prasasti ini mengacu pada lokasi pertapaan Raja Airlangga. Pucangan dalam bahasa Jawa Kuno bisa diartikan sebagai tumbuhan pinang. Lokasi pertapaan Raja Airlangga yang tempatnya subur ditumbuhi pohon pinang. Pohon pinang ini, sambung Agus Aris, ternyata kerap muncul dalam nama nama tempat di daerah lain yang juga bersejarah. Ia mencontohkan Prasasti Kanjuruhan, kata ‘Kanjuruhan’ mengacu pada kata ‘juruh’ atua air legen dari Pinang. Kemudian di Muarojambi, di mana kata ‘Jambi’ sendiri adalah sama artinya dengan pinang. Lalu di Kerajaan Pakuan Pajajaran di Bogor di mana kata ‘Bogor’ mengacu pada pohon pinang yang sudah ditebang ‘pagogoran’. “Di Sumatra pun kata Pinang terus digunakan seperti Pangkalpinang dan Tanjung Pinang,” papar Agus Aris.

Peneliti dari Puslit Arkenas Kemendikbudristek, Titi Surti Nastiti, mengatakan pemerintah harus mengupayakan pemulangan Prasasti Pucangan. Titi sepakat dengan penjelasan Agus Aris soal pentingnya informasi di dalam prasasti tersebut bagi sejarah peradaban di Jawa. “Bagi India prasasti ini mungkin tidak ada historisnya sama sekali. Tapi bagi Indonesia ini sangat penting,” kata Titi. Ia lalu memaparkan sejumlah langkah pemerintah yang berhasil memulangkan artefak asal Indonesia yang disimpan di luar negeri. Dimulai dari insiatif Prof Muhammad Yamin yang memulangkan Kitab Negarakertagama dan arca Prajnaparamitha yang disimpan di Belanda. Kemudian disusul pemulangan ratusan benda dari museum di Belanda beberapa tahun lalu.

Menurut Titi, isi tulisan di prasasti pada batu itu satu sisi bertulis Jawa kuno dan satu sisi berbahasa sansekerta. Berikut isi bagian yang berbahasa Sansekerta.

Silsilah Raja Airlangga, dimulai dari Sri Isanatungga yang mempunya anak Sri Isanatunggawijaya. Dari perkawinan anaknya dengan Lokapala, lahir Sri Makutawangsawardhana. Anak Makutawangsawardhana yang bernama Gunapriyadharmapatni (Mahendradatta) kawin dengan Udayana, dan lahirlah Airlangga.

Dalam prasasti itu juga disampaikan bahwa Airlangga menikah dengan putri raja sebelumnya, tetapi pada pernikahan itu keraton terbakar sehingga Airlangga harus melarikan diri ke hutan ditemani Narottama. Airlangga kemudian didatangi rakyat yang dipimpin oleh para Brahmana, mereka meminta agar Airlangga bersedia menjadi raja.

Kemudian di tulisan itu juga disampaikan pertempuran-pertempuran yang dimenangkan Airlangga, sehingga semua musuhnya ditaklukan satu persatu dan akhirnya pada tahun 959 saka (1037) Airlangga berhasil duduk di atas takhta dengan meletakkan kakinya di atas kepala semua musuhnya. Selanjutnya disebutkan juga bahwa Airlangga mendirikan sebuah pertapaan di Pugawat sebagai tanda terima kasihnya kepada para dewa.

Sedang pada bagian yang berbahasa Jawa Kuna disebutkan pada tanggal 10 paro terang bulan kartika 963 saka (6 November 1041), Airlangga yang bergelar Sri Maharaja Rakai Halu Sri Lokeswara Dharmawangsa Airlangga Anantawiramottunggadewa memerintahkan agar daerah-daerah Pucangan, Brahem, dan Bapuri dijadikan Sima untuk kepentingan sebuah pertapaan yang telah didirikannya.

Hal itu dilakukan untuk memenuhi janjinya ketika Pulau Jawa mengalami pralaya sebagai akibat serangan Raja Wurawari yang menyerbu lawan pada tahun 938 saka (1016) dan mengakibatkan raja yang memerintah sebelumnya berikut beberapa pejabat tinggi lainya tewas.

Baca artikel detiknews, “Begini Isi Prasasti Pucangan dari Gunung Penanggungan yang Tersimpan di India” selengkapnya https://news.detik.com/berita/d-2830165/begini-isi-prasasti-pucangan-dari-gunung-penanggungan-yang-tersimpan-di-india.

Download Apps Detikcom Sekarang https://apps.detik.com/detik/

Direktur Hukum dan Perjanjian Sosial Budaya Kementerian Luar Negeri RI V Hesti Dewayani mengatakan, kalau memang Prasasti Pucangan prioritas untuk dikembalikan, maka pemerintah akan segera mengambil langkah langkah diplomasi dan hukum sesuai aturanyang ada. Terlebih dulu, dari informasi KBRI New Delhi, maka Kemenlu akan mengadakan pertemuan dengan sejumlah pihak seperti Kemendikbudristek, Kemenkeu, Arsip Nasional Indonesia, Perpustakaan Nasional, Polri, Kemendagri, pemda terkait, Kemenkumham dan lainnya. Dari pertemuan ini akan dibentuk tim verifikasi Prasasti Pucangan yang akan menghasilkan putusan apakah prasasti itu harus dipulangkan atau tidak.

Pelaksana Pensosbud KBRI New Delhi, Hanafi, mengatakan, pihaknya siap memberikan data data terkait maupun informasi tambahan lainnya untuk mendukung proses pemulangan prasasti tersebut.

republika.com/adhie

Bagikan ya

Leave a Reply