IKUTI KAMI DI MEDIA SOSIAL
IKUTI KAMI DI MEDIA SOSIAL

Indonesia Masuk Perangkap Menjadi Negara Swasta

Pelan dan pasti, negara ini telah masuk menjadi “negara swasta.” Negara swasta adalah “cucu haram” hasil pekawinan silang dari tiga serangkai: fundamentalisme pasar (neoliberalis), terorisme agama (neofundamentalis) dan fasisme ekonometrika (neotribalis).

Bung Karno pernah memprediksi masalah ketiga serangkai ini. Puncak kulminasinya, saat kita tidak mengerti operasi dari tiga agensi tersebut.

Pengertian Swastanisasi Negara

Apa itu swastanisasi negara? Mari kupas pelan-pelan. Swastanisasi negara adalah pengalihan dan pengendalian pemerintahan yang sebelumnya dikuasai dan dikendalikan oleh semua warganegara menjadi dikuasai dan dimiliki oleh segelintir warga (Asing, Aseng dan Asong).

Bagaimana itu bisa terjadi? Melalui ternak kapitalisme lanjut (kleptokrasi, oligarki, predatorik dan kartelik). Apa operasinya? Dengan membuat manusia tidak menyadari kemanusiaannya. Manusia yang tunduk pada simbol, angka dan kontestasi.

Singkatnya warganegara yang mengabsenkan konstitusi, merabuni diri dari sejarah kejuangan sambil menternak road map impor yang tak peduli problem dasar kewargaan.

Dus, adalah kapitalisme lanjut yang membuat manusia harus bekerja lebih dari yang diperlukan. Kapitalisme lanjut ketakutan akan kesadaran manusia yang dieksploitasinya.

Dan, cara terbaik membuai manusia agar tak sadar adalah meninabobokan mereka di negara swasta.

Ciri Negara Swasta

Di negara swasta, ada beberapa ciri yang terus terjadi. Pertama, pemerintah mencitrakan kerakyatan, menihilkan dentuman. Kedua, pemerintah gagal menemukan solusi, berhasil menguasai kursi.

Ketiga, pemerintah berhasil menumpuk hutang, gagal meredam berang. Keempat, pemerintah surplus cacian, minus gagasan.

Kelima, terjadi sedikit industrialisasi, tetapi minus lapangan pekerjaan. Keenam, kebijakan fiskal luas, tetapi defisit stimulus. Ketujuh, ada interkoneksitas perbangkan, tetapi alpa kemudahan.

Kedelapan, muncul daya beli tanpa produktifitas. Kesembilan, ada stabilitas tetapi tanpa akselerasi.

Tentu, ini soal inti. Karenanya ini perang kecerdasan. Perlu kejeniusan semesta untuk memahami dan memenangi perang ini.

Dus, agar lebih tajam pengetahuan soal negara swasta sebagai arsitektur politik kolonial, kita perlu membaca banyak buku dan riset postkolonial studies.

Hadirnya Negara Swasta Penyebab Program Ekopol Kerakyatan Gagal Tumbuh

Singkatnya, dalam negara swasta, program ekopol kerakyatan bersendikan koperasi dan penyehatan BUMN berakhir nihil karena:

Pertama, koperasi dan BUMN tidak terdapat cantolannya secara bahasa, baik di Pancasila maupun UUD45.

Kedua, karena tak ada kata soal keduanya, muncul tafsir yang sangat beragam dan perdebatan yang tak berujung.

Ketiga, kedua tema itu tak ada kurikulumnya di seluruh sekolah-sekolah kita, baik formal, informal maupun non-formal.

Keempat, kita tak banyak agensi dan komunitas epistemik yang memperjuangkannya.

Kelima, terlalu banyak kurikulum dan agensi yang memusuhi isu bertema keduanya.

Karena kelima tesis ini, para ahli hukum, ekonom, ahli politik dan sejarah keduanya tak bersinergi di semua lini dalam meletakkan duduk persoalannya.

Akhirnya fundamentalisme pasar, fasisme ekonometrika, feodalisme harga makin merajalela. Kalian masih bimbang dan ragu untuk kembali ke UUD 1945 sebelum amandemen atau memulai revolusikah?(*)

 

Penulis: Dr. M. Yudhie Haryono

Bagikan ya

Leave a Reply