IKUTI KAMI DI MEDIA SOSIAL
IKUTI KAMI DI MEDIA SOSIAL

Indonesia Harus Menjadi Negara Progresif dan Integralistik Guna Mencapai Negara Pancasila

Ada tiga hal penting dalam realitas Indonesia saat ini. Ketergantungan (utang), ketimpangan dan kemiskinan membuncah di sebuah negara yang mengadopsi Pancasila sebagai dasar negara.

Padahal di negara yang mengadopsi Pancasila, ketergantungan (utang), ketimpangan dan kemiskinan seharusnya berbanding lurus dengan konstitusi. Jika konstitusional benar direalitaskan dalam kebijakan publik, maka ketergantungan, kemiskinan dan ketimpangan seharusnya akan habis. Demikian pula sebaliknya. Jika ketergantungan, ketimpangan dan kemiskinan semakin merajalela berarti Pancasila telah dikhianati.

Absennya Tiga Hal Penting Dalam Diskursus Indonesia Saat Ini

Hadirnya realitas tersebut sesungguhnya terjadi karena ada tiga hal penting yang absen dalam diskursus Indonesia. Ketiganya adalah sebagai berikut.

Pertama, sejak lahirnya, Indonesia telah dibentuk dari pertempuran berdarah-darah soal bagaimana landasan pembangunan. Yaitu pertempuran untuk mencari solusi dari tiga ide pengelolaan wilayah. 1. Pengelolaan berbasis darat (ontologi kontinental). 2. Pengelolaan berbasis laut (ontologi maritim). 3. Pengelolaan berbasis udara (ontologi dirgantara). Ketiga model pembangunan tersebut, memiliki argumentasinya masing-masing tetapi sering tak menemukan sintesanya. Ketiganya yang sering saling merasa benar sendiri.

Kedua, dalam sejarahnya, Indonesia telah dibangun dari pergumulan panjang dan dialektis, panas dan argumentatif, tegang dan kompromistis. Yaitu debat untuk mencari solusi dari tiga ideologi yang mencari sintesa. 1. Bagaimana dengan kolonialisme-neoliberalisme. 2. Bagaimana dengan etatisme-komunisme. 3. Bagaimana dengan nasionalisme-pancasilaisme. Ketiga ideologi tersebut membentuk Indonesia dan sering bertempur guna tak menemukan jawabannya. Ketiganya sering dilupa oleh para elite Indonesia hampir sepanjang waktu.

Ketiga, sejak semula, Indonesia telah dibentuk dari perdebatan panjang dan dialektis, panas dan argumentatif, tegang dan kompromistis. Yaitu debat untuk mencari solusi dari tiga ide yang mencari sintesa. 1. Di mana posisi agama. 2. Di mana posisi suku. 3. di mana posisi ras. Semuanya telah mengarsiteki Indonesia, namun sering tak menemukan jawabannya. Ketiganya sering dilupa oleh kita semua.

Semua itu seharusnya tidak terjadi, Indonesia seharusnya dapat mengatur satu kesatuan langkah. Selain itu tidak membiarkan polarisasi permasalahan tanpa ada penyelesaian.

Memfungsikan Kembali Fungsi Negara

Menjadi pertanyaan kemudian, bagaimana tatacara negara melampaui realitas tersebut di atas? Satu-satunya jalan adalah dengan mengintegrasikan tiga tantangan di atas dan menjadikannya riil di lapangan. Salah satu caranya dengan membuat negara progresif yang berjuang mewujudkan cita-cita proklamasi, Pancasila dan konstitusi agar warganya adil-sejahtera-bahagia; juga mempraktekkan negara integralistik yang bergotong-royong.

Hal ini karena cara terbaik mengatasi ketergantungan, ketimpangan dan kemiskinan adalah mempraktekkan negara progresif dan integralistik, yaitu negara yang integratif dan bertindak progresif karena tidak memihak pada salah satu golongan, tetapi berdiri di atas semua kepentingan.

Dalam negara progresif dan integralistik, pikiran dan tindakan setengah hati tidak akan membimbing negara pada pemikiran dan tindakan yang berdentum. Dus, haram bagi kita mengambil keputusan yang tidak menguntungkan negara. Negara di sini adalah negara yang berdiri di atas semua warga negara; yaitu negara yang mengarus utamakan warganya (asli); yaitu negara yang tak kalah oleh oligarkik, kartelik, predatorik dan kleptokrasik.(*)

Bagikan ya

Leave a Reply