IKUTI KAMI DI MEDIA SOSIAL
IKUTI KAMI DI MEDIA SOSIAL

Kemerdekaan Sebagai Sebuah Pekerjaan Raksasa Yang Dilupakan

Banyak pemikiran para founding father yang mencatatkan bahwa makna kemerdekaan adalah merdeka dari ketimpangan dan perbudakan karena produksi dikerjakan oleh semua untuk semua dari semua di bawah pimpinan anggota warganegara yang bergantian bersendikan moral dan meritokratif. Hasilnya, kemakmuran seluruh warganegara diutamakan dan bukan orang per orang.

Misalnya saja pemikiran sebagai berikut. Tak ada artinya kemerdekaan nasional jika struktur ekonomi-politik kita tak berubah, (Hatta: 1946:2). Karenanya, merdeka adalah merubah aksiologi kirim bahan mentah menjadi bahan jadi, (Karno: 1947:9). Itulah merdeka 100% yang tanpa utang karena investasi SDM dan finansialnya maksimal, (Tan: 1947:15).

Merdeka Berarti Menyusun Kembali Ekonomi-Politik

Dengan demikian dapat dikatakan jika kemerdekaan sesungguhnya merupakan sebuah pekerjaan raksasa. Pekerjaan menyusun kembali ekonomi dan politik sebagai usaha bersama berdasar asas kemanusiaan dan homo societus plus koperasi. Sementara itu, hanya usaha yang tidak menguasai hajat hidup orang banyak yang boleh dikerjakan swasta. Selainnya harus dimiliki, dikuasai dan dikendalikan oleh negara demi kemakmuran bersama: seluruhnya.

Di samping itu juga pekerjaan menyusun kembali kuasa untuk mengatur diri sendiri secara merdeka, mandiri, modern dan martabatif. Baik kuasa untuk berdaulat secara politik, berdikari secara ekonomi, berkepribadian dalam kebudayaan, berkemanusiaan dalam agama dan berpancasila dalam bernegara.

Merdeka Bukan Untuk Melahirkan Arsitektur Ketidakkadilan Ekonomi

Pekerjaan raksasa bernama kemerdekaan tersebut, jelas bukan untuk melahirkan arsitektur ketidakadilan ekonomi. Sayangnya pekerjaan raksasa tersebut gagal. Pada saat ini fenomena yang terjadi adalah begitu tumbuh 10 konglomerat akan panen 10 juta kaum melarat. Begitu tumbuh 100 sarjana tapi panen jutaan putus sekolah. Begitu tumbuh 10 kota baru tapi panen ribuan desa miskin. Begitu tumbuh 100 mall dan rumah sakit tapi membludak ribuan pasar rakyat mati dan jutaan warganegara kesakitan tak mampu berobat. Jika demikian, maka pertumbuhan tersebut buat siapa? Tentu jelas bukan untuk seluruh warganegara.

Data Bank Dunia bahkan menyebut bahwa 1% konglomerat hitam menguasai 56,3% kekayaan nasional dan 10% konglo hitam menguasai 70% kekayaan nasional. Sebuah kondisi ke-3 paling parah di dunia setelah Rusia dan Thailand. Hal itu dibuktikan dengan rasio Gini pengeluaran/2020 sudah mencapai 0,40 (BPS). Semua itu menunjukkan pada sebuah kondisi yang jauh dari realitas makna kemerdekaan itu sendiri.

Penyebab Lahirnya Penghianatan Atas Kemerdekaan Indonesia

Kondisi realitas saat ini yang bertentangan jauh dengan perjuangan para founding father yang telah mempertaruhkan nyawanya buat merdeka, tentu saja menimbulkan banyak pertanyaan.  Bagaimana mungkin para pejabat Indonesia dapat rabun konstitusi dan buta sejarah, sehingga membiarkan adanya penghianatan atas kemerdekaan yang telah diraih dengan susah payah.

Adanya fenomena di luar nalar tersebut, ternyata diperkuat oleh lahirnya tiga tipe elite ilmuwan bangsa saat ini. Pertama. Ilmuwan pencari uang. Kedua. Ilmuwan pembela orang. Ketiga. Ilmuwan peneguh nilai. Dan dari ketiganya, ternyata yang terbanyak adalah ilmuwan pencari uang dan pembela orang dan bukan ilmuwan yang meneguhkan nilai-nilai.

Berdasarkan riset yang kami buat tentang kwalitas negara via “kerja vs bicara” penyebab lahirnya penghianatan atas kemerdekaan yang telah diraih dengan susah payah ternyata sedikit banyak dapat ditelusuri. Dari riset tersebut dicatat menghasilkan 4 tipologi negara.

Pertama. Negara sedikit bicara dan sedikit bekerja: Mozambik, Uganda, Angola, Nigeria. Kedua. Negara sedikit bicara dan banyak bekerja: Jepang, RRC, Singapura dan Korsel. Ketiga. Negara banyak bicara dan banyak bekerja: Inggris, Kanada, Jerman, Amerika Serikat. Keempat. Negara banyak berbicara sedikit bekerja: Yunani, Siprus, Mesir dan Malaysia.

Uniknya, Indonesia tidak masuk dalam tipologi mana pun. Hal ini karena ‘lain yang dibicarakan lain yang dikerjakan’ dan ‘lain yang dipelajari lain yang diujikan.”

Adanya gap antara yang dibicarakan dan dikerjakan, membuat bangsa ini jauh dari cita-cita kemerdekaan dan bahkan menuju kerawanan sosial. Bila kini ketidakpuasan masih dalam eskalasi aman sehingga hanya diperlukan tindakan pencegahan, namun hal ini tetap tidak bisa dibiarkan. Kerawanan sosial dapat terbentuk dalam berbagai macam seperti kerawanan ekonomi, politik, sosial budaya, ideologi, hankam dan hukum. Muaranya terjadi kerusuhan sosial dan berujung pada revolusi sosial.

Dari semua itu dapat dikatakan jika lahirnya penghianatan atas kemerdekaan Indonesia, karena kita kini telah hidup tanpa kurikulum, tanpa keteladanan, dan tanpa tujuan bersama. Selain itu, tanpa kemerdekaan, kedaulatan dan kemandirian bersama menjadi prestasi kita kini.(*)

 

Penulis: Dr. M. Yudhie Haryono

Bagikan ya

Leave a Reply