IKUTI KAMI DI MEDIA SOSIAL
IKUTI KAMI DI MEDIA SOSIAL

Ketidaksadaran Kolektif Berbangsa Ironi Indonesia Kini

Ketidaksadaran adalah ketika seseorang tiba-tiba menjadi tidak mampu menanggapi rangsangan. Orang yang yang mengalami ketidaksadaran, tidak merespons suara keras atau bergetar.

Ketidaksadaran tidak hanya dialami oleh setiap individu semata, tapi juga dapat dialami secara kolektif. Menurut Carl Gustav Jung (2002), ketidaksadaran kolektif merupakan level terdalam dari psyche yang berisikan akumulasi dari pengalaman-pengamalan manusia yang diwariskan. Ketidaksadaran kolektif menjadi kumpulan ketidaksadaran personal yang diwariskan antar generasi.

Ketidaksadaran Kolektif Berbangsa Ditandai Ketidaktahuan Akan Petunjuk Konstitusi dan Pancasila

Di Indonesia, ketidaksadaran kolektif ditandai dengan ketidaktahuan akan petunjuk konstitusi dan Pancasila dalam berbangsa dan bernegara secara berulang dan dalam. Tidak berlebihan bila panen hoax menjadi buktinya. Lahir kemudian pomeo: ‘Saya bicara tanpa berpikir dan saya putuskan tanpa membaca’. Dalam bahasa Carl Gustav Jung 1875-1961, a Swiss Psychiatrist disebut: Thinking is difficult, that’s why most people judge ‘Berpikir itu sulit, makanya kebanyakan orang menilai’.

Ketidaktahuan akan petunjuk konstitusi dan Pancasila dalam berbangsa dan bernegara juga membuat agama sekadar menjadi hiasan, di wilayah publik. Elite berperilaku tak jauh dari keburukan, menumpuk kepintaran guna menenggelamkan kebenaran, dan memariakan masyarakat miskin dan bodoh. Bukan untuk mengentaskannya.

Mungkinkah semua itu tidak lain sebagai the undiscovered self ‘diri yang belum ditemukan’? Diri yang tidak sesuai petunjuk konstitusi dan Pancasila tetapi mendapat kuasa dan kursi, sehingga daya rusaknya berlipat kali dari peristiwa biasa. Jiwa yang mengkhianati nilai luhur yang tumbuh di sekitarnya.

Disebabkan Dari Absennya Hukum

Dalam bahasa Latin dikenal adanya istilah audentes fortuna juvat ‘keberuntungan berpihak pada yang berani’. Kondisi ini menjadi potret realitas bangsa pada saat ini. Terlebih hukum tidak pernah menjadi panglima.

Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum dan Keamanan (Menko Polhukam) Mahfud MD bberapa waktu lalu bahkan menilai persoalan hukum di Indonesia dalam kondisi yang sangat berat. Sangat sulit untuk memperbaiki situasi yang ada sekarang, mafianya di mana-mana, kalau orang mau perbaiki disikat.

Dengan kondisi tersebut, keberanian para elite berani menipu, mencuri, merampok dan membunuh warganegara demi posisi yang diincarnya menjadi jalan pintas meraih keberuntungan. Lahir kemudian drama perbankan, MNC, infrastruktur, korupsi dan sebagainya yang tak berujung. Para pemain utamanya adalah para elite yang memiliki kekuasaan. Mereka lebih memilih membela yang bayar dan bukan berani membela yang benar.

Kini tidak ada yang tahu kapan tradisi ini akan berakhir, namun kita percaya jika titik kesetimbangan akan tiba bila hukum dapat menjangkau siapa saja, termasuk mereka yang meneruskan tradisi ketidaktahuan akan petunjuk konstitusi dan Pancasila.*

Bagikan ya

Leave a Reply