IKUTI KAMI DI MEDIA SOSIAL
IKUTI KAMI DI MEDIA SOSIAL

Peluang Kemerdekaan Hanya Bisa Diwujudkan Dengan Dihadirkannya Visi Maritim Indonesia

Feodal menurut etimologisnya berasal dari bahasa Latin “feudum”.  Feudum memiliki arti sama dengan fief, yaitu sebidang tanah yang diberikan yang bersifat sementara kepada seorang vassal (penguasa bawahan atau pemimpin militer) sebagai wujud imbalan atas pelayanan yang diberikan kepada penguasa (lord) sebagai pemilik tanah tersebut.

Sementara itu menurut KBBI, feodal berarti: 1. Berhubungan dengan susunan masyarakat yang dikuasai oleh kaum bangsawan. 2. Mengenai kaum bangsawan (tentang sikap, cara hidup, dan sebagainya). 3. Mengenai cara pemilikan tanah pada abad pertengahan di Eropa.

Pada masa politik kolonial, sistem feodal tetap dipertahankan. Kompeni bahkan dengan piawai memanfaatkan ”ikatan feodal” itu untuk memaksa rakyat desa memproduksi barang dan jasa bagi kebutuhan pasar dunia. Dan kala Pemerintah Hindai Belanda yang menggantikan Kompeni, demi tetap mempertahankan kolonialisme yang dilakukannya, mereka menutup laut dari penguasaan kerajaan-kerajaan di Nusantara.

Penyebab Lahirnya Mental Inlander

Penutupan laut dari penguasaan kerajaan-kerajaan di Nusantara tersebut menjadi awal dari surutnya peradaban Maritim Nusantara. Selain itu juga membuat masyarakat menjadi kehilangan jati-dirinya. Budaya masyarakatnya menjadi tertutup, berwawasan ke dalam (inward looking) dan bermental “inlander” serta sangat dipengaruhi budaya kontinen.

Di saat kemerdekaan tiba, maka ia yang merupakan peluang untuk segera bangkit dan maju serta berkembang, ternyata peluang itu tidak dapat dimaksimalkan oleh Indonesia. Semua terjadi karena feodalisme dan mental “inlander” telah tertanam dari generasi ke generasi dan dibareng dengan wawasan masyarakat yang tertutup (inward looking) itu.

Adanya mental “inlander” inilah yang menjadi penghambat kebangkitan bangsa itu. Secara akademis dapat dikatakan bahwa ada kecenderungan bangsa “terasing dari budaya sendiri”dan tidak memiliki keterikatan dengan alamnya. Hal itu yang merupakan biang keladi bagi kebangkitan bangsa menuju yang seharusnya (Frans Magnis Suseno SJ, DPS Seri Kesembilan 7 Agustus 2014).

Mengikis Mental Inlander Dengan Dihadirkannya Visi Maritim Bangsa Indonesia Kembali

Sadar atau tidak, para elite bangsa Indonesia dewasa ini ternyata masih menggunakan skema “ikatan feodal” itu dalam sistem pemerintahan dewasa ini. Ini ditandai dengan hadirnya sistem sosial yang mengagung-agungkan jabatan, pangkat, dan kekayaan serta bukan mengagung-agungkan prestasi kerja apalagi gagasan, cita-cita serta hasrat merdeka sebagaimana para founding father dahulu.

Di alam demokrasi saat ini, skema “ikatan feodal” seharusnya tidak dipakai lagi. Feodalisme, mental inlander, dan inward looking sebagai tiga serangkai setan seharusnya dijauhi dan bahkan harus dihilangkan. Salah satu caranya adalah dengan dihadirkannya Visi Maritim Indonesia yang ditopang oleh 4 pencapaian strategis.  Pertama. Terciptanya masyarakat Indonesia dengan mental dan adab maritim yang kuat. Kedua. Terkuasainya ilmu pengetahuan dan teknologi kelautan guna kemandirian ekonomi bangsa melalui pengembangan kewirausahaan. Ketiga. Tersedianya konektivitas antarpulau dan sistem pertahanan nasional yang handal. Keempat. Terwujudnya pengelolaan sumberdaya alam kelautan secara adil dan berkelanjutan untuk mewujudkan sebesar-besarnya kemakmuran rakyat.

Hanya dengan mengembalikan laut sebagai arus-utama (mainstream) dari pembangunan nasional, Indonesia akan berada dalam jalan yang benar sesuai fitrahnya, yaitu memaksimalkan peluang kemerdekaan untuk segera bangkit dan maju serta berkembang. Lebih dari itu, Indonesia bahkan dapat kembali menjadi Negara Kelautan yang besar.*

 

Note:

Disosialisasikan kembali dari buku Visi Maritim Indonesia, Yayasan Suluh Nuswantara Bakti.

Bagikan ya

Leave a Reply