Ultima Indonesia itu Pancasila. Ia yang mengadilkan, memakmurkan, menyentosakan dan memartabatkan. Tetapi, sejarahnya tak sependek sinetron tivi dan umur kekuasaan seorang presiden. Nilai-nilai ini tumbuh di Jawa purba. Kini, Pancasila tetap bertahan dalam angan-angan, dalam pikiran, dalam sanubari, dalam harapan masa depan. Walau nyatanya Pancasila belum merealitas, belum terlaksana maksimal, belum terbangun sempurna, hingga belum...
Ibuku ngendikan: “Ana unen-unen, mengko titi wanci yen wis ana ratu trah Mbanyumas, cah gunung Slamet, Nuswantara bakal duwur kukuse, makmur kawulane lan amba jajahane.” Mungkin ini sekedar ilusi, bisa juga “mimpi ratu adil” dan sangat mungkin futurologis tanah kami. Tetapi, hampir semua peradaban besar punya imaji. Dan, imaji terbesar bangsa kita adalah: “jadi mercusuar...
Tak ada yang lebih bertanggungjawab dari kependidikan dan kepengajaran di suatu negara kecuali para budayawan. Jika para politisi lupa, jika para pengusaha acuh, jika para buruh mengeluh, kita masih bisa memakluminya. Tetapi, jika para budayawan tak lagi gelisah dengan “situasi dan kondisi kepengajaran dan kependidikan kita,” selesai sudah kita dalam bernegara. Buku ini kami bahas...
Kekerasan dalam bahasa adalah tanda kekerasan dalam pikiran. Dan, kekerasan dalam pikiran adalah tanda kemacetan dalam capaian cita-cita. Kemacetan cita-cita adalah suasana kita semua kini. Apa dosa terbesar pemerintahan Indonesia terhadap warganya sejak Orde Baru? Adalah beragama “pertumbuhan.” Iman pada pembangunan berdimensi pertumbuhan inilah “dosa asal dan dosa induk” yang tak banyak dipahami presiden-presiden kita....
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Rektor Universitas Krisnadwipayana (Unkris) Ayub Muktiono mengapresiasi terbitnya buku ‘Memperadabkan Bangsa, Paradigma Pancasila untuk Membangun Indonesia’. Buku yang disusun oleh para pakar dari Aliansi Kebangsaan, Forum Rektor Indonesia, Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia, Asosiasi Ilmu Politik Indonesia, Yayasan Suluh Nuswantara Bakti (YSNB), serta Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) tersebut dapat menjadi referensi penting bagi...
Mengapa hasil pendidikan kita tak terlalu memuaskan dalam merealitaskan janji konstitusi? Dalam preambule konstitusi ada kata: melindungi, faktanya masih banyak yang tak sekolah. Ada kata mencerdaskan, faktanya masih banyak yang buta huruf. Ada kata menyejahterakan, faktanya ketimpangan makin tajam. Ada kata menertibkan, faktanya makin tidak tertib. Tentu ada banyak jawaban. Tapi lewat pendekatan postkolonial studies...
Banyak yang keliru saat mendefinisikan Budaya Indonesia hingga saat ini. Banyak juga yang kurang mengenai makna Budaya Indonesia. Misalnya saja adalah anggapan sebagai berikut. faham Kebudayaan nasional Indonesia sesungguhnya dibentuk oleh berbagai kebudayaan daerah. Jadi, kebudayaan nasional Indonesia merupakan puncak-puncak kebudayaan daerah yang ada di seluruh Indonesia. Pendapat yang pernah dikemukakan oleh Ki Hajar Dewantoro...
Berulang. Tak belajar dari sejarah. Kini, puluhan ribu jemaah yang tertipu biro umroh mirip jutaan warganegara yang tertipu pesta pilpres dan pilkadal. Dan, kedua korban sama-sama dalam keadaannya: negara tak hadir untuk menegakkan hukum (the basic law of survival). Kini korban-korban itu tak punya tempat mengadu. Sebab negara dan elitelah pelaku tipu-tipu tersebut. Itulah nasib...
Indonesia itu apa? Ini adalah pertanyaan ontologis yang sering tak diucapkan oleh kita semua. Padahal, kegagalan kita dalam mempercepat realisasi janji proklamasi berawal dari pertanyaan maha penting ini. Jadi, pertanyaan Indonesia itu apa menjadi urgen untuk kita jawab bersama. Kemampuan menjawab pertanyaan itu nanti diharap bisa menjawab problem besar berikutnya. Tiga Hal Terkait Epistema Indonesia...
Mengapa ekonomi-politik kita harus menghadirkan Hatta? Tentu bukan hanya karena mencintainya. Tetapi karena beberapa tanya: Tahukah kita? Pusat-pusat studi Pancasila di kampus-kampus stagnan. Beberapa bahkan mati suri. Akibatnya kemiskinan dan ketimpangan makin menjadi-jadi. Para ekonom di kampus-kampus itu belajar ilmu ekonomi apa? Sehingga sistem ekonomi pancasila, ekonomi konstitusi, ekonomi rakyat dan demokrasi ekonomi tidak terdengar...