IKUTI KAMI DI MEDIA SOSIAL
IKUTI KAMI DI MEDIA SOSIAL

Artikel

Hingga tahun 500 M, masyarakat Cina tidak mengenal tehnologi pembuatan kain katun. Mereka juga tidak memiliki pengetahuan untuk membudidayakan kapas. Kain katun adalah jenis kain rajut (knitting) yang berbahan dasar serat kapas. Dalam catatan W.P. Groeneveldt, katun (kapas) merupakan tanaman yang diperkenalkan ke Tiongkok. Dalam Sejarah Dinasti Liang, Buku 54, hlm.1, ditemukan catatan berikut: “Gu-ba...
Indonesia makin pasti. Yaitu pasti krisis ekonomi. Kelanjutan dari krisis moral, modul dan modal. Hal ini dipicu rendahnya ekspor, rendahnya perdagangan internasional, rendahnya pertumbuhan, harga aset menurun, konsumen gagal bayar hutang dan lembaga keuangan mengalami kekurangan likuiditas. Ini pilihan ekonomi neoliberal. Warisan ekonomi fundamentalis pasar. Sebuah pilihan bodoh yang terus dijalankan elite karena buta kebijakan...
Menteri Keuangan Sri Mulyani mengatakan realisasi defisit APBN tahun berjalan tak bisa dihindari. Rakyat disuruh hati-hati, tidak boros dan hemat energi. Dus, dalam tiga tahun terakhir, defisit APBN kita hampir menjadi kurikulum. Kondisi keuangan ini cukup rawan karena juga terjadi defisit perdagangan dengan nilai impor yang jauh lebih tinggi dibandingkan nilai ekspor. Tentu ini masalah...
Akhir tahun lalu, Kepala Badan Tenaga Nuklir Nasional (Batan) Djarot Sulistio Wisnubroto menyampaikan harapannya kepada presiden terpilih 2014-2019, Joko Widodo atau Jokowi agar pemerintah mengembangkan energi nuklir melalui pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN). “Tidak ada paradigma Amerika Serikat melarang kita untuk mengembangkan nuklir. Saya tegaskan di sini, Bung Karno dulu sangat menginginkan Indonesia punya...
Kasultanan pada awalnya adalah bentuk sistem nāgara yang mendapat nilai-nilai Islam. Sebagaimana sistem nagara, kasultanan menerapkan sistem aristokrasi. Namun berbeda dengan nāgara, kepala negara dalam sistem kasultanan tidak seperti kepala negara dalam sistem nāgara. Jika kepala negara dalam sistem nāgara berperan sebagai semacam jembatan antara dunia manusia dan dewa, maka kepala negara dalam sistem kasultanan...
Pertanyaan itu terus terngiang di kupingku. Kenapa anda mau sekolah pasca di Amerika? Tanya Professor Elizabeth Fuller Collins. Kujawab tegas: “Untuk menemui Prof Noam Chomsky dan nonton NBA.” Lalu, doi menjawab: “Selamat merayakan hari raya kiri dan kecerdasan kekritisan tiada tara.” Lalu, aku tersenyum dan bilang: “Mari kita wariskan peradaban multipolar yang saling hormat bermartabat...
Di manakah kini kemakmuran bersama berada? Tidak mudah menjawabnya. Sebab makmur adalah suatu keadaan di mana kita dapat memenuhi kebutuhan primer, sekunder dan tersier dengan mudah. Kemakmuran juga berarti mendapatkan semua kebutuhan-kebutuhan tersebut tanpa adanya tekanan dan kesulitan yang amat sangat. Dan, pelakunya mampu mengatur keadaan finansial, waktu dan tenaganya dengan ceria. Selain itu, pelaku...
Kini, semua tempat adalah pasar dan semua peristiwa adalah kerakusan. Untuk semenjana, agama dan ide-ide progresif kemanusiaan wafat ditelan gairah hasrat kaduniawian. Pasar dan kerakusan kini menjadi potret terbaru dari dunia yang sedang kita huni. Tak ada kata yang lebih pas menjelaskan kondisi kekitaan kini. Itu tesisku yang makin kuyakini setelah zaman mukidi menjadi sunyata...
Pada dasarnya, sebuah prasasti umumnya berisi tentang hal-hal sebagai berikut. Pertama, penetapan status sīma. Kedua, keputusan hukum mengenai tanah, utang-piutang, kewarganegaraan, pajak, pengelolaan hasil penjagaan lingkungan alam dan upacara. Serta ketiga, peringatan atas suatu peristiwa, (Machi Suhadi, 1993: 238-239). Namun diluar isi secara umum tersebut, terdapat prasasti berisi kisah perjalanan. Prasasti itu adalah prasasti Pabañolan....
Jika penjajah Portugis, Spanyol, VOC, Belanda dan Jepang mendorong kita menjadi “bangsa gunung” maka pemimpin kini mendorong kita menjadi “bangsa selokan.” Pada bangsa gunung, budaya yang berkembang adalah mistisisme dan feodalisme. Pada bangsa selokan, budaya yang berkembang adalah korupsi, utang dan merasa paling benar. Tentu saja kedua model bangsa itu menyalahi takdir kita sebagai bangsa...
1 11 12 13 14 15 27